Kamis, 22 Juli 2021

Aksi Nyata

Aksi Nyata 1.4 Budaya Positif

Latar Belakang

Pada masa pandemi Covid-19 ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19) tentang belajar dari rumah. Dalam aturan itu disampaikan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa harus terbebani tuntutan menyelesaikan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan di sekolah.

Pembelajaran jarak jauh difokuskan untuk peningkatan pemahaman murid mengenai pandemi Covid-19. Adapun aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar peserta didik, sesuai minat, bakat dan kondisi masing-masing, termasuk dalam hal kesenjangan fasilitas belajar di rumah. Namun, sampai hari ini ruang kelas masih dipandang sebagai pendidikan yang sesungguhnya oleh sebahagian besar masyarakat Indonesia. Masyarakat masih memandang bahwa ruang kelas adalah sekolah yang sesungguhnya dan kelas online itu kurang efektif. Masyarakat menganggap bahwa pembelajaran daring berdampak terhadap guru, murid, dan orang tua di mana pun. Teknologi tidak sepenuhnya dapat membantu proses belajar dari jarak jauh menjadi lebih mudah untuk diterapkan. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh murid dalam menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh adalah salah satunya kendala yang tidak dapat dijangkau oleh teknologi yang lebih dari itu semua adalah teknologi tidak dapat menyentuh salah satu inti dari Pendidikan itu sendiri, yakni pendidikan karakter yang salah satu cirinya adalah budaya positif.

Pendidikan karakter di masa pandemi melalui pembelajaran jarak jauh ini tentu harus dituntun, diawasi dan dikontrol oleh guru, sesuai dengan nilai dan peran guru juga hakikat pendidikan Ki Hajar Dewantara

Beberapa kendala yang dirasakan guru dan murid dalam pembelajaran online:

  1.  Guru harus melayani murid 24 jam
  2.  Guru tidak memiliki rasa kedekatan dengan murid
  3.  Tidak timbul komunikasi positif ( murid tidak sopan dalam bertutur kata)
  4.  Murid cuek terhadap pembelajaran
  5.  Murid merasa diabaikan guru
  6.   Murid merasa guru terlalu banyak memberi tugas
  7.   Kuota dan jaringan yang tidak stabil

Tujuan

Tujuan rancangan aksi nyata:

  •       Menumbuhkan budaya positif sebagai upaya penanaman pendidikan karakter
  •       Menumbuhkan komunikasi positif antara guru, murid, dan orang tua
  •       Mengetahui harapan dan keinginan murid sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan

Deskripsi Aksi

Berdasarkan latar belakang yang ada, pada kegiatan aksi nyata ini saya ingin mencoba menerapkan budaya positif dalam pembelajaran jarak jauh. Tahapan yang dilakukan dalam melakukan aksi nyata ini adalah:

  •       Menyusun rancangan aksi
  •       Membuat kesepakatan kelas antara guru dan murid
  •       Menyajikan hasil kesepakatan kelas
  •       Mensosialisasikan kesepakatan kelas kepada guru BK dan orang tua
  •       Melaksanakan kesepakatan kelas
  •       Melaksanakan evaluasi dan refleksi kesepakatan kelas

Hasil

Indikator keberhasilan dari aksi nyata ini adalah:

  •       Terciptanya komunikasi positif antara guru, murid dan orang tua
  •       Terwujudnya pembelajaran yang menyenangkan
  •       Terciptanya pembiasaan budaya positif

Pada beberapa kali pembelajaran yang telah dilakukan, sudah tampak usaha murid untuk menciptakan komunikasi positif dengan guru, guru tidak lagi mendapatkan pesan 24 jam. Murid lebih antusias dalam pembelajaran, meskipun tetap masih ada beberapa murid yang belum bergabung dalam pembelajaran dikarenakan keterbatasan kuota.

 

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan

Salah satu  kendala dalam pelaksanaan aksi nyata ini adalah koneksi yang tidak stabil, banyak murid yang tinggal di daerah yang terkadang mengalami kendala koneksi. Selain itu, paket Internet yang terbatas juga mempengaruhi kondisi kegiatan Aksi nyata ini sehingga beberapa murid tidak dapat mengikutinya. Namun saya mengatasi masalah ini dengan mencetak angket harapan murid. Meskipun hasil nagket ini belum bisa disimpulkan dan dianalisis..

Rencana Perbaikan

Rancangan aksi nyata ini akan diteruskan untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid dan merdeka belajar. Tahapan refleksi bulanan akan dijadikan acuan pelaksanaan pembelajaran di bulan berikutnya.

Ada beberapa perbaikan yang masih harus saya lakukan demi peningkatan kualitas pendidikan paling tidak di satuan pendidikan saya. Dengan mengupgrade diri untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik di sekolah saya. Langkah kedepannya yang saya lakukan adalah dengan mengajak rekan guru di satuan pendidikan saya. Tujuannya adalah mengajak rekan guru untuk berkolaborasi menanamkan budaya positif di sekolah

Dukungan yang dibutuhkan

Pelaksanaan aksi nyata ini tentu akan lebih berhasil jika terdapat dukungan dari berbagai pihak. Saya sangat berharap besar terhadap dukungan dari murid, guru BK, rekan sejawat lain, kepala sekolah sebagai pemberi izin, dan tentu orangtua murid yang menjadi tonggak pendidikan karakter di rumah.

Dokumentasi saat diskusi kesepakatan kelas menggunakan zoom meet


Foto chat harapan dan keinginan murid dalam membuat kesepakatan kelas


Foto pernyataan siap melaksanakan hasil kesepakatan pada buku / kertas masing-masing


Hasil kesepakatan kelas










Senin, 19 Juli 2021

Koneksi Antar Materi 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

Assalamu'alaikum wr wb

Hai Mathers dan Sahabat Belajar, kali ini saya ingin berbagi mengenai Koneksi antar materi dari modul 2.1 yaitu tentang Pembelajaran Berdiferensiasi.

repository.unp.ac.id

 

Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Dalam Tomlinson (2001:1), pada pembelajaran diferensiasi berarti mencampurkan semua perbedaan untuk mendapatkan suatu informasi, membuat ide dan mengekspresikan apa yang mereka pelajari. Dengan kata lain bahwa pembelajaran diferensiasi adalah menciptakan suatu kelas yang beragam dengan memberikan kesempatan dalam meraih konten, memproses suatu ide dan meningkatkan hasil setiap murid, sehingga murid-murid akan bisa lebih belajar dengan efektif.

 Strategi dalam Pembelajaran Berdiferensiasi

Selanjutnya, Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal?

Dalam memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal maka harus ditentukan langkah-langkah pembelajaran dan tujuan yang jelas.

 Langkah-langkah dalam pembelajaran  Berdiferensiasi

1. Menetapkan Tujuan Pembelajaran (Pahami Kompetensi Dasar atau Standar yang akan dicapai, Tentukan Tujuan Pembelajaran).

2. Melakukan pemetaan kebutuhan siswa (Pre tes minat, profil belajar dan kesiapan belajar)

3. Menentukan Strategi dan alat penilaian yang digunakan

4. Menentukan Kegiatan Pembelajaran (Konten, Proses, Produk)

  

Tujuan Pembelajaran Berdiferensiasi

  • Tujuan untuk setiap siswa adalah pertumbuhan maksimum dari "posisi belajar" -mereka saat ini. Tujuan untuk guru adalah semakin memahami tentang posisi belajar tersebut sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
  •  Ketika guru melakukan pembelajaran berdiferensiasi mereka menjauh dari melihat diri mereka sendiri sebagai pemilik dan penyebar pengetahuan dan bergerak ke arah melihat diri mereka sendiri sebagai penyelenggara kesempatan belajar. Guru dengan demikian akan lebih fokus pada “membaca” siswa mereka.
  • Diferensiasi menghendaki seorang guru untuk menyadari bahwa ruang kelas harus menjadi tempat di mana guru akan selalu berusaha mengejar pemahaman terbaik mereka tentang pengajaran dan pembelajaran setiap hari, dan juga untuk mengingat setiap hari bahwa tidak ada praktik yang benar-benar praktik terbaik kecuali jika itu berhasil untuk setiap individu.

 Kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Pembelajaran berdiferensiasi memiliki peranan yang sangat penting untuk menumbuhkembangkan peserta didik secara holistic. Cita-cita Ki Hajar Dewantara untuk menciptakan manusia yang memiliki keluasan mental, spiritual, dan intelektual akan tercapai melalui pembelajaran berdiferensiasi. Selain itu, kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif akan sangat mudah diintegrasikan dalam proses pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik.

 Nilai-nilai positif yang harus dimiliki seorang guru penggerak seperti Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid akan secara otomatis tumbuh dan terlestarikan dalam diri seorang Guru pada saat membuat perencanaan, pelaksaanan, assessment, dan rencana tindak lanjaut dalam pembelajaran berdiferensiasi. Dibutuhkan pendidik yang terampil dan berkompeten sehingga mampu berkontribusi secara aktif untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid atau pembelajaran yang selalu mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta itu semua terjawab dengan pembelajaran berdifrensiasi.

Kita juga tidak menghilangkan kekuatan yang dimiliki peserta didik dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Berbekal kekuatan yang dimiliki peserta didik kita akan lebih mudah untuk melakukan perubahan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang selalu memperhatikan kebutuhan peserta didik. Secara sadar displin positif akan tumbuh dan terbiasa dilakukan peserta didik karena apa yang mereka lakukan dalam pembelajaran bediferensiasi sudah diselaraskan dengan kebutuhan mereka. Mereka merasa dihargai dan diakui eksistensinya maka mereka otomatis akan melakukan tindakan yang berbudaya positif sebagai bentuk timbal balik dari pembelajaran berdiferensiasi.

 

Demikian koneksi antar materi Pembelajaran Berdiferensiasi.

Semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum wr wb

Minggu, 30 Mei 2021

Aksi Nyata Penerapan Pemikiran KHD sesuai Peran Guru Penggerak

Latar Belakang

Semenjak terjadinya pandemi di bulan Maret 2020, kegiatan pembelajaran di sekolah dialihkan melalui pembelajaran daring dari rumah. Meskipun terasa sekali terpaksa, tetapi demi kesehatan pembelajaran daring ini tetap dilaksanakan.

Fakta di lapangan, pembelajaran daring yang dilakukan belum maksimal. Banyak faktor yang tentu mengakibatkan hal ini terjadi. Salah satunya adalah guru yang masih terlalu fokus pada target kurikulum. Padahal hal ini sedikit bertentangan dengan pemikiran KHD bahwa pembelajaran harus berpusat pada murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Artinya pembelajaran harus memperhatikan keterbatasan siswa dalam memahami materi pelajaran dan juga harus melek terhadap teknologi

Pemikiran KHD sangatlah penting, sesuai dengan perkembangan tekonologi dan pendidikan saat ini. Filosofi yang sangat terkenal yaitu ‘Ing Madya Mangun Karsa, Ing Ngarsa Sung Tulada, Tut Wuri Handayani masih sangat relevan dengan pendidikan saat ini. Sebagai guru kita harus memberikan dorongan dan arahan, mampu menciptakan ide dan harus bisa memberi teladan dan contoh yang baik dengan perkataan dan tindakan yang baik. Jika hal ini diaplikasikan dengan maksimal, maka akan tercipta kondisi siswa dan guru berkolaborasi untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh murid. Sehingga akan tercipta pembelajaran yang berpihak pada murid dengan kondisi pembelajaran yang menyenangkan.

Perkembangan teknologi tidak terlepas dari peran pendidikan pada saat ini. Kita tidak bisa terlepas dari teknologi untuk menjalankan proses pembelajaran.

Pada aksi nyata ini, saya sebagai pemimpin pembelajaran mencoba memaksimalkan pengunaan zoom dan video pembelajaran yang saya buat sendiri untuk melaksanakan proses pembelajaran, berdiskusi, dan memberikan umpan balik terhadap kegiatan siswa yang dilaksanakan di rumah agar pembelajaran lebih bermakna dan berpusat pada siswa.




Hal di atas biasa saya lakukan dalam pembelajaran, tapi saya terkaget ketika melihat tugas-tugas yang siswa kerjakan. Banyak diantara mereka yang tidak mengerjakan tugas. Bahkan video yang saya buat pun ada yang viewersnya hanya beberapa persen dari seluruh siswa. Hal ini berarti mereka ada yang memang menyimak video ada yang tidak.

Terlihat dari data di bawah ini, masih banyak tanda merah yang ada pada rekap tugas siswa. Itu artinya siswa tersebut belum mengerjakan tugas sampai waktu yang telah ditentukan. (Sebagian sudah ada nilainya setelah dilakukan tindakan)



Aksi nyata

Adanya kejadian di atas, mendorong saya untuk melakukan sebuah aksi nyata perubahan setidaknya di kelas yang saya ampu saat ini. Yang pertama saya lakukan adalah membuka komunikasi lewat aplikasi whatsapp secara intens. Jika sebelumnya saya tidak menerima pengumpulan tugas lewat whatsapp, saat ini saya coba membuka diri dengan menerima tugas melalui aplikasi whatsapp. Selanjutnya saya merubah metode dan media pembelajaran dari yang hanya menggunakan video, saya tawarkan kepada siswa untuk memilih media. Diantara mereka ternyata banyak juga yang merasa nyaman dengan pembelajaran menggunakan modul atau power point. Selain itu pembuatan tugas pun ada yang menggunakan video dan berkelompok.

Kegiatan Aksi Nyata

Setelah teridentifikasi media dan metode belajar  yang diinginkan siswa, saya mencoba melakukan pembelajaran dengan menggunakan gabungan whatsapp grup, video, dan modul dalam satu waktu. Jika biasanya cukup lewat video pembelajaran, kali ini saya melaksanakan pembelajaran dengan whatsapp dengan langsung berdiskusi bersama siswa. Pada diskusi ini, mereka bisa menggunakan gambar bahkan pesan suara untuk mengungkapkan pendapat mereka. Selanjutnya saya memberikan tugas kelompok agar siswa yang masih merasa bingung bisa terbantu oleh temannya.

Pemberian materi dengan video pada whatsapp grup


Diskusi menanggapi video, berpendapat menggunakan voice note



Menggunakan gambar



Hasil tugas kelompok menggunakan video



https://youtu.be/5VQ4L8VYra0

  

Hasil Aksi nyata

Secara umum, hasil yang diperoleh setelah melaksanakan aksi nyata adalah adanya perubahan pandangan siswa terhadap gurunya. Mereka lebih terbuka dan berani mengungkapkan pendapatnya. Dari segi motivasi pun lebih meningkat. Mereka terasa terbantu oleh temannya yang memang sudah bisa dan gemar pelajaran ini. Tugas mereka yang sebelumnya merah pun sudah terisi.

 

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan

Salah satu  kendala dalam pelaksanaan pembelajaran ini adalah koneksi yang tidak stabil, banyak siswa yang tinggal di daerah yang terkadang mengalami kendala koneksi. Selain itu, paket Internet yang terbatas juga mempengaruhi kondisi kegiatan Aksi nyata ini sehingga beberapa murid tidak dapat mengikutinya. Namun saya mengatasi masalah ini dengan mencetak modul untuk diambil siswa di sekolah.

Keberhasilan:

Kegiatan aksi nyata yang saya lakukan di kelas memilikii dampak positif bagi siswa saya. Salah satunya adalah ada peningkatan motivasi belajar. Mereka berpendapat kegiatan ini mampu memotivasi mereka dalam mengikuti pembelajaran karena konsep merdeka belajar yang membuat mereka lebih tertarik dan tertantang dalam melaksanakan pembelajaran tersebut.

Rencana Perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Rancangan aksi nyata ini akan diteruskan untuk menyambut tahun ajaran baru, kolaborasi membuat kesepakatan kelas yang berpusat pada murid dengan beberapa konten atau isi berisi aspirasi peserta didik. Tahapan refleksi akhir semester akan dijadikan acuan pelaksanaan pembelajaran di semester berikutnya. Dengan mengagendakan kegiatan sharing dan kolaborasi Bersama antar guru mata pelajaran, walaupun dalam jaringan atau online.

Rencana Perbaikan Pelaksaan Di Masa Mendatang.

Ada beberapa perbaikan yang masih harus saya lakukan demi peningkatan kualitas pendidikan paling tidak di satuan pendidikan saya. Dengan mengupgrade diri untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik di sekolah saya. Langkah kedepannya yang saya lakukan adalah dengan mengajak rekan guru di satuan pendidikan saya. Tujuannya adalah mengajak rekan guru untuk berkolaborasi menanamkan filosofi Ki Hadjar Dewantara yang memberikan pembelajaran yang berpusat kepada murid.

Kamis, 27 Mei 2021

Koneksi Antar Materi Nilai dan Peran Guru Penggerak

  



     5 Nilai guru penggerak sangat diperlukan untuk mendukung guru penggerak menjalankan perannya. Dengan kemandirian guru bisa menyelesaikan tugasnya, dengan inovatif dan kolaboratif guru bisa menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. yang semuanya berujung pada pembelajaran yang berpihak pada murid. dan tentu saja perlu adanya refleksi diri agar apa yang sudah kita kerjakan bisa diperbaiki jika salah dan bisa ditingkatkan jika sudah baik. 

5 nilai tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap tugas yang akan diperankan guru penggerak, baik itu menjadi pemimpin pembelajaran, mewujudkan kepemimpinan siswa, apalagi untuk menggerakkan komunitas dan menjadi coach sesama guru

    Nilai dan peran guru penggerak ini sangat berhubungan dengan filosofi pemikiran KHD. Jika kita mengaplikasikan nilai guru penggerak, maka kita akan bisa menerapkan pendidikan sesuai dengan filosofi pemikiran KHD

    Untuk mencapai nilai-nilai di atas, hal utama yang harus saya lakukan adalah melakukan sedikit demi sedikit kebaikan dimulai dari diri sendiri, termasuk belajar. Belajar terus untuk memantaskan diri sampai akhirnya bisa menempuh nilai-nilai dan peran guru penggerak dan semakin percaya diri untuk bisa menggerakkan orang lain. Tidak lupa untuk melakukan refleksi dan membuka diri untuk bisa menerima saran dan kritik dari orang lain untuk perbaikan diri menuju ke arah lebih baik. 

    Semua orang di sekitar tentu berperan dalam perwujudan saya menjadi guru penggerak yang diinginkan.

  1. keluarga: orang-orang terdekat yang mendukung segala kegiatan yang saya lakukan

  2. atasan: dukungan dari atasan tentu sangat dibutuhkan agar bisa terealisasi guru penggerak yang sesunguhnya

  3. teman sejawat; teman berbagi, berkolaborasi dan berinovasi untuk memajukan kualitas pembelajaran

  4. peserta didik: subjek terpenting dalam pelaksanaan pembelajaran

Jumat, 07 Mei 2021

Tugas CGP Refleksi Terbimbing


 Alhamdulillah kali ini sudah memasuki modul 1.2. Pada tanggal 8 Mei 2021 diminta untuk melakukan refleksi terbimbing.
Di bawah ini saya sampaikan isi dari refleksi terbimbing yang saya buat

1.       Apa saja nilai diri saya? (yang terdapat pada bagian mulai dari diri)

Saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi meskipun masih suka terkadang kurang percaya diri. Saya selalu ingin maksimal dalam mengerjakan tugas yang sudah diamanahkan. Sampai saat ini, saya masih terus belajar untuk menjadi guru profesional.

2.       Apa yang saya rasakan setelah mengetahui nilai dari Guru Penggerak? Jelaskan!

Luar biasa, saya terkagum-kagum dengan yang bernama GURU. Saya harus bangga menjadi guru, tetapi bukan berarti menjadi sombong. Guru harus bisa kompeten dalam berbagai peran. Hal ini juga yang menjadi patokan bagi saya untuk menjadi guru yang sesungguhnya, guru yang mau belajar, bergerak, dan berbagi. Guru yang terbuka atas perubahan zaman.

 3.       Apa saja nilai diri Guru Penggerak yang sudah saya miliki sekarang?

Sebetulnya nilai-nilai guru penggerak ini sudah saya aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari, hanya dalam pelaksanaannya masih belum konsisten dan belum maksimal.
Satu nilai yang paling melekat adalah mandiri.

 4.       Diantara nilai-nilai yang sudah saya pelajari, nilai apa yang saya rasa perlu saya kuatkan? jelaskan!

Inovatif dan berpihak pada murid. Terkadang sulit untuk melakukan inovasi, sulit menggerakan diri. Masih belum konsisten untuk bergerak.
Sedangkan berpihak pada murid sampai saat ini masih sering diabaikan yang terpenting target tercapai. Dan sekarang saya sadari bahwa itu salah besar.

 5.       Apa yang saya rasakan setelah mengetahui peran dari seorang Guru Penggerak?

Awalnya saya pikir guru penggerak hanya berkaitan dengan diri sendiri dan proses pembelajaran bersama peserta didik. Ternyata peran guru penggerak sangat luas mencakup lingkungan luar.

 6.       Apa yang bisa saya lakukan (khusus untuk diri saya) untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak?

Belajar, salah satu moto hidup saya adalah belajar, terus belajar, dan mencoba berbagi. Dengan konsisten dan memiliki komitmen untuk belajar saya yakin saya bisa menguatkan peran dan nilai diri sebagai guru penggerak.

 7.       Apa yang akan menghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya?

Motivasi diri, kekonsistenan dan kepercayaan diri yang terkadang masih labil.


Semoga Pendidikan CGP ini bisa dilewati dengan baik.

Selasa, 21 April 2020

Latihan (Tugas 4)


Hai Adik-adik....
Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kalian mengenai materi limit fungsi trigonometri, silahkan diisi kuis berikut.

Penilaian Akhir Semeter (Tugas 3)

Adik-adik.. sudah tiba waktunya kalian melakukan penilaian akhir semster untuk materi limit fungsi trigonometri.
Untuk itu silahkan kerjakan penilaian di bawah ini. jangan lupa berdoa. Semoga hasilnya memuaskan.
silahkan klik tautan di samping Penilaian Akhir Semester
atau bisa langsung isi kotak di bawah ini

Aksi Nyata

Aksi Nyata 1.4 Budaya Positif Latar Belakang Pada masa pandemi Covid-19 ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan...